menjadi "manusia"

"menjadi manusia"
"memanusiakan manusia"
mungkin akan terdengar aneh oleh mereka
yang sudah terbiasa menyebut dirinya "manusia"
nyatanya
tak semudah itu untuk menjadi benar-benar manusia
apalagi yang memanusiakan manusia
hakikat manusia yang mulia menjadi khalifah dimuka bumi
pun atas dirinya sendiri
bertanggung jawab sepenuhnya dengan segala yang ia perbuat
dengan akal fikiran dan nafsunya
yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainya
ketika akal fikiran dan nafsu manusia tidak di gunakan dengan tepat benar
apa beda dengan hewan
bahkan hewan memiliki alasan
mereka ditakdirkan tidak dengan akal
namun naluri mereka terkadang lebih berguna dari akal fikiran manusia yang kejam
akal harus di didik pula dengan pelajaran manusiawi
saya yakin hati manusia cenderung kepada kebaikan
bukan keburukan
manusia akan mulia dengan ilmu nya
dan terkenang dengan kebaikannya
karena kebaikan apapun yang dilakukan
sejatinya untuk dan berbalik kepada diri sendiri
sama sekali tak mudah
untuk selalu perduli
berusaha mendengar
membuka lebar mata dan fikiran untuk orang lain
memghargai perbedaan
menerima kebenaran, bukan pembenaran
menyampingkan ego diri
lebih mementingkan orang lain
membantu meringankan beban orang lain
bersenang hati ketika orang lain senang
bersusah hati ketika orang lain susah
tidak mudah berburuk sangka
apalagi memfitnah
menjaga persatuan persaudaraan
guyup rukun gotong royong
tidak mencampuri urusan orang lain
berusaha menyenangkan orang lain namun masih tetap menjadi diri sendiri
saling mendukung dan memotivasi
menebar kasih sayang dan kedamaian
membawa manfaat bagi sesama
berbagi kesenangan
menyimpan masalah tanpa membebani orang lain
terus belajar dan tidak cepat puas
bersikap adil dan bijak
berfikir sebelum bertindak
tidak mudah marah
tidak menyakiti orang lain
melestarikan alam
dan masih banyak lagi
intinya menjadi manusia tidak semudah itu
dan yang mengaku manusia
apa yang sudah dilakukan sebagai "manusia"?


semakin jauh ku melangkah
semakin banyak yang ku tahu
pun yang ku tidak tahu
kehidupan ini sangat kompleks
manusianya pun
dan ternyata ada
manusia sejahat apapun itu
pun sebaik apapun itu
mungkin sikap ku seharusnya adalah semampuku
aku mempunyai jalan sendiri
pun takdir sendiri
tak ada gunanya samasekali berharap apapun terhadap manusia
berharap hanya kepada Allah, yang mahatahu lagi kuasa
sering sekali
aku lupa
akan kekuasaanNya
aku meragukanNya
aku tidak percaya
dan terlalu memikirkan duniaku
"ngoyo"
padahal tidak benar benar tahu apa yang dikejar
atau apa yang sebenarnya penting
banyak kita terjebak didalam suatu gelembung perspektif yang membutakan
atau kotak kotak yang menjadi pemisah kita dengan yang lain
kita tak tahu atau lupa kalau sebenarnya manusia itu sama
adapun perbedaan perbedaan yang ada
keberadaannya untuk dihargai dan disyukuri
bukan malah menjadi bahan cela dan menjatuhkan orang lain
tak jarang
bahkan hampir semua orang
"mementingkan diri sendiri daripada orang lain"
ini fleksibel
kita perlu mementingkan diri sendiri dalam suatu posisi tertentu pun kita perlu mementingkan orang lain dalam suatu posisi tertentu
yakinlah bahwa menjadi egois adalah sangat menyeramkan
egois menjadikan seseorang menjadi acuh, tidak perduli, dan menutup mata terhadap rasa butuh orang lain
egois menjadikan seseorang tidak nampak lagi sebagai manusia, dlsb
dan perduli terhadap orang lain menjadikanmu berguna bagi orang disekitarmu dan kamu menjadi manusiawi
bukankah orang yang baik itu orang yang bisa bermanfaat untuk orang lain?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengisi Waktu Luang Selama Pandemi Covid-19 dengan Hal yang Positif

Apa itu rezeqi?